Coretan Pena Cahaya

Tujuanku menulis hanya untuk sekedar melegakan rasa. Selebihnya, itu tergantung persepsi pembaca. (Latifa, N., 26111994)

Alhamdulillah..
Senang sekali mendapatkan uang hasil jerih payah sendiri. Jumlah tidak begitu penting bagiku, yang terpenting aku bisa cari uang sendiri. Meski gaji ini terhitung tidak cukup untuk mencukupi kebutuhanku, tapi dada ini terasa begitu lapang dan nikmat syukurku lebih terasah.
Sayangnya, kesibukan di semester 6 ini sungguh keterlaluan. Aku harus memilih cuti dan insyaAllah akan kembali bekerja lagi di semester 7.
Semoga Allah senantiasa mencukupi kebutuhanku tuk hidup, berkarya dan beramal di bumi-Nya. (Aamiin)

Read The Quran


STENIS MUDA

 



‘Stenis Muda’, begitulah kami menyebut diri kami. Cukup berat tuk menggapai sebutan ‘Stenis Muda’. Jangan dikira ini hanya sekedar tugas kuliah yang bersifat sementara. Bukan. Ini bukan sekedar tentang tugas kuliah, melainkan tentang arti perjuangan menggapai ilmu. Ilmu tentang menghadapi pahitnya hidup dan menerima realita. Di balik ‘Tracheophyta’, kami harus jungkir balik, lompat, jongkok, manjat, jatuh atau bahkan tergelincir. Tak jarang pula, diantara kami harus menangis gara-gara ‘Tracheophyta’ yang sulit ditemukan karena habitatnya yang unik. Beberapa diantara kami, ada yang sering mampir ke selokan, dikejar polisi hutan, hujan-hujanan, hanya untuk mengambil ‘Tracheophyta’. Ah…
Kami sering tidak tidur hanya karena ‘Tracheophyta’. Malam-malam kami habis terkuras. Lelah? Iya. Bahkan, pernah saya berjalan sendirian di Splendid Malang seperti orang linglung, tanya sana sini untuk sekedar mencari pedagang bunga yang menjual ‘Tracheophyta’. Langkah kaki saya tak tau harus berhenti dimana. Bolak-balik saya memutari Splendid dengan wajah serius mengamati tumbuhan satu per satu, mencari tumbuhan yang berspora. Hingga akhirnya, kaki saya memutuskan untuk berhenti pada salah satu toko bunga. Saya tertarik dengan salah satu genus ‘Tracheophyta’. Dalam dunia kami, kami menyebutnya si ‘Selaginella’. Sayangnya, pedagang bunga itu hanya menjual 2 spesies Selaginella. Itu tandanya, saya dan partner saya harus mencari spesies Selaginella yang lain. Minimal, kami harus menemukan 5 spesies.
Selaginella oh selaginella. Gara-gara Selaginella, kami harus jongkok dan mencium bau selokan. Sungguh, seolah-olah hidup kami tak jauh dari selokan. Beruntungnya, selokan itu tidak digunakan untuk pembuangan limbah, ya hanya sampah-sampah kering.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya kami sampai pada tahap akhir. Tugas terakhir, mencari 30 spesies ‘Tracheophyta’ di hutan Pronojiwo, Lumajang. Seru? Iya. Melelahkan? Sangat-sangat lelah. Tapi, dibalik itu semua, kami menjadi paham bahwa ketika kita ingin menggapai sesuatu yang diimpikan, kita harus siap berjuang dan berkorban serta berdoa untuk mendapatkannya. Ini bukan sekedar kata bijak. Pahamilah.



Pernah berada diposisi orang yang diisolir dengan sengaja. Dijauhkan karena perbedaan yang tidak terlalu penting bagiku. Ya, lagi-lagi karena pakaian yang kukenakan. Apa yang salah dengan pakaianku? Waktu itu, aku memakai pakaian yang menurutku sudah menutup aurat, namun mungkin menurut mereka, ada cacat pada jilbabku. Jilbabku terlalu tipis, tidak begitu lebar tapi sudah menutup dada. Apa hanya karena jilbab tipisku, mereka dengan tega memposisikan diriku sebagai orang yang terisolir?
            Kak, melalui tulisan ini, adikmu ini ingin menyampaikan sesuatu yang hingga saat ini membekas karena perlakuanmu. Aku sudah mencoba melupakannya, tapi aku tiba-tiba teringat kejadian 2 tahun lalu karena baru-baru ini ada seseorang yang menceritakan bahwa ia sakit hati diperlakukan seolah-olah tidak ada, padahal ia ada dalam forum itu.
            Kak, kurasa cukup aku saja yang diperlakukan seperti itu. Tidak perlu melakukannya pada orang lain juga. Kakak tahu tidak? Kenapa bayi manusia yang baru lahir tidak langsung bisa berjalan seperti anak ayam yang baru menetas atau bayi kucing yang baru lahir? Rupanya Allah sengaja membuat skenario seperti itu pada manusia. Allah ingin mengenalkan kita pada sebuah proses. Proses pembentukan diri menjadi insan yang didambakan surga.
            Kak, bukankah menjadi baik itu perlu proses? Boleh saja kita memaksa orang lain agar berpenampilan syar’i layaknya dirimu. Tapi, perlu dipahami. Bahwa kebaikan yang terlahir dengan cara dipaksa akan terlahir dalam keadaan prematur. Kebaikan prematur tidak akan bersifat permanen. Berbeda halnya, dengan kebaikan yang berproses, bertahap, pelan dan tidak dipaksa. Tentu, akan jauh lebih indah. Karena pada realitanya, sudah banyak wanita yang melepas jilbab syar’inya ketika ia sudah berada di tempat lain dimana di tempat itu tidak ada seseorang yang memaksanya memakai jilbab. Bukankah ini lebih menyakitkan, Kak? Mereka adalah saudara kita yang dulunya kau paksa-paksa untuk mengenakan jilbab syar’i.
            Kak, maaf jika tulisan ini terkesan menggurui. Tidak ada maksud untuk mengguruimu. Aku hanya ingin kau mendengar keluhan adik-adikmu. Kak, kita semua ingin sepertimu. Menjadi perempuan anggun dalam pandanganNya. Biarkan kami berproses menuju kebaikan yang hakiki. Kami ingin merasakan manisnya proses itu. Jangan campakkan kami jika langkah adik-adikmu ini terlalu lambat menuju kebaikan tersebut. Rangkul kami dan arahkan kaki kami. Kak, jangan sakit hati karena tulisan ini ya. Semoga Allah berkenan mengistiqomahkan setiap langkah kita. Aamiin.

Kejadian 2 tahun lalu, cukup aku saja yang merasakan.

Tahun Lalu (2014)










Jika tahun lalu, saya bisa menjalankan amanah menjadi pemateri bioinsektisida di desa Poncokusumo. Semoga tahun ini, mampu menjalankan amanah sebagai asisten sekaligus mampu menularkan ilmu yang bermanfaat bagi adik-adik. Aamiin.



Kamu, sadar tidak?
Diluar sana, ada banyak wanita yang diam-diam mengagumimu. Sama sepertiku.
Bisa jadi, mereka juga melakukan hal yang sama sepertiku, yakni mendoakanmu.
Tapi, entah. Doa mana yang akan Tuhan kabulkan. Dariku atau dari mereka?
Sungguh, perangaimu membuat kita sebagai wanita menjadi tertarik. Jadi tidak salah, banyak wanita yang mengagumimu.

Kamu, sadar tidak?
Diam-diam mereka ingin mengenalku. Menanyakan ada hubungan apa aku denganmu. Aku menjawab, “Tidak ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas teman”. Rupanya mereka tak percaya. Ada beberapa wanita yang mulai mengerutkan dahinya. Kurasa dia cemburu. Entah, apa yang ia cemburui. Aku sudah bilang bahwa kita hanya teman. Teman yang memiliki resonansi yang sama. Hhi..

Kamu, mau tidak?
Bagaimana jika kita merayakan cinta sebelum Tuhan mengubah takdir karena doa-doa mereka yang nakal. Mengubah takdirku dengan takdirmu untuk bersatu. Kamu mau kan?

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

About Me

Foto Saya
Nur Latifa
Seseorang yang sedang memantaskan diri untuk menyambut pangeran yang akan Tuhan kirimkan esok. Memantaskan diri untuk bersanding dan menuju surga dengannya. Dengan pangeran pilihan Tuhan.
Lihat profil lengkapku
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates