Coretan Pena Cahaya

Tujuanku menulis hanya untuk sekedar melegakan rasa. Selebihnya, itu tergantung persepsi pembaca. (Latifa, N., 26111994)

Tampilkan postingan dengan label Pena Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pena Cinta. Tampilkan semua postingan

Sahabat




Sahabat…
Jujur, ingin sekali aku mengatakan bahwa ‘Aku senang, Tuhan telah mengenalkan kita dan aku tidak ingin kau pergi’. Tapi, rasa gengsiku amatlah tinggi, jika kutakan kalimat itu padamu. Yaa..aku masih gengsi. Ku yakin, kau juga merasakan hal yang sama denganku.
Untuk sementara ini, aku hanya bisa menunjukkan apa yang ada dalam perasaanku melalui tindakanku.


 


Sahabat...
Golongan darah kita sama, yakni O. Cara berpikir dan emosi kita cenderung sama meski ada beberapa persen yang berbeda akibat gen orang tua kita. Akan tetapi, membuat perjalanan dan menulis cerita hidup bersamamu sungguh menyenangkan. Ku harap, kau tetap akan menjadi sahabatku hingga akhir nanti..
Sahabat dunia- akhirat, *Artanti Dian Ratnasari


Kamis, 17 Januari 2013
Gadis kecil yg penulis temui
            Malam itu, sekitar jam 20.00, aku dan ke 4 temanku mencari tempat print yang paling murah. Tiba-tiba, kaki kita berhenti pada salah satu toko fotocopy dan print di desa landungsari. Disinilah, saya bertemu dengan seorang gadis kecil yang sedang sibuk bermain game online.
Tiba-tiba, datang seorang wanita memakai jilbab biru, menyuruh si anak kecil ini untuk makan. Wanita itu adalah ibunya.
            “Adek, ayo makan dulu.” pinta ibunya.
            “Gak…”sambil merengek.
            “Kalau gak makan ntar sakit perutnya. Adek mau makan sama ayah?”tanya ibunya.
            “Iya, adek mau makan sama ayah.”
Gadis kecil itu langsung merengek minta disuapin sama ayahnya. Sementara ayahnya lagi sibuk mengeprintkan tugas kami.
            “Makan sama ibu aja ya dek, ayah masih repot”pinta ayahnya.
            “Gaaaaakk, adek mau makan sama ayah.”
            “Ayah masih repot, makan sana, ntar kalau gak makan ‘mencret’ lho..”
Si gadis kecil itu pun menuruti perintah ayahnya dan segera menemui ibunya. Beberapa menit kemudian, ia sudah selesai makan dan memainkan game onlinenya lagi. Sementara menunggu print selesai, aku mengamati tingkah gadis kecil itu yang sedang bermain game. Aku merasa takjub melihatnya, karena anak sekecil itu sudah bisa memahami apa yang diperintahkan halaman game online tersebut.
            “Mbak, mau yang warna apa?”tanya gadis kecil itu yang sedang bermain game Barbie.
Aku tersentak kaget. Jarang sekali ada gadis kecil yang berani bertegur sapa dengan orang yang belum pernah dikenalnya. Tapi, ini berbeda.
Spontan aku menjawab, “Mau warna biru.”
Gadis kecil itu, terus mengotak-atik game tersebut sesuai permintaanku. Dalam sekejap, Barbie yang ada dalam game tersebut berubah menjadi cantik. Game has finished. Tangan gadis kecil itu mengarahkan pointer ke permainan yang lainnya yang temanya sama dengan permainan sebelumnya, yaitu membuat Barbie tampil cantik.
Tiba-tiba, seorang temanku mendekati gadis kecil itu. Tanpa rasa malu, gadis kecil itu menyapa temanku yang berada disampingnya.
            “Mbak, mau pilih baju yang mana?”tanya gadis kecil itu,
            “Emm.. pilih baju yang ini.”sambil menunjuk ke layar monitor.
Mereka berdua pun asyik mengobrol. Sementara aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis kecil itu. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kusampaikan kepada  gadis kecil itu. Aku pun mendekatinya.
            “Adek, kok main terus? Gak belajar?”tanyaku.
            “Belajarnya di sekolah.”jawabnya polos.
            “Sekolah apa, Dek?”
“Sekolah TK. Berangkatnya jam 8. Pulangnya jan 9. Enak ya..”sahut gadis kecil itu.
“Iya, ya.. enak. Cuma 1 jam ya..setelah itu pulang deh.”jawabku sambil berlogat anak-anak.
“Iya, enak, cuma 1 jam..”sahut gadis kecil itu mengulang apa yang aku katakan.
Waktu semakin larut dan semua tugas sudah selesai di print. Aku pun pamit kepada gadis kecil itu.
            “Dek, mbak pulang dulu ya..”
            “Iya, mbak..”jawabnya dengan nada manis.

***
Itulah sepenggal kisah singkatku dengan gadis kecil yang aku temui. Jarang sekali bukan? Gadis kecil yang masih sekolah TK menegur orang yang usianya lebih tua darinya. Apalagi, belum kenal. Tanpa berkenalan terlebih dahulu, gadis kecil itu berani mengakrabkan dirinya. Coba lihat lagi percakapan diatas. Tidak ada unsur nama yang disebutkan, saking asyiknya mengobrol hingga lupa tidak menanyakan ‘nama’. Hehe.. =)
            Secara tidak langsung, gadis kecil itu mengajarkan kepada kita cara bersosialisasi. Adapun tips bersosialisasi yang saya dapatkan dari cerita diatas adalah: Yang pertama, ‘Jangan gengsi untuk menegur.’ Tidak ada batasan usia bagi siapa saja yang ingin menegur pertama kali. Bagi kita yang masih cenderung ‘gengsi’ untuk menegur terlebih dahulu lawan bicara kita, termasuk saya (akhirnya menyadari), cobalah hilangkan rasa‘gengsi’tersebut.
Next, the second, ‘Cobalah mengakrabkan diri kepada orang yang barusaja dikenal tapi jangan alay, sewajarnya saja.’ Kenapa? Jika anda alay, lawan bicara anda akan merasa tidak nyaman berbicara dengan anda. Dan pastinya lawan bicara anda akan cenderung berpikir ‘negatif’ tentang anda.
The third,’ Cobalah berbicara dengan nada lembut (baca: tidak terlalu keras/membentak)’. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang harmonis, nyaman dan lebih akrab.
Daaaannn..step yang terakhir, ini yang paling penting. Yaitu  s-ese, n-unyu, m, ‘SENYUM’. Jangan pelit-pelit untuk menarik pipi kanan dan kiri anda. Kata orang yang dilanda asrama, eitz,  maksudnya asmara,”Senyummu mengubah duniaku.” Sahabat, ngerti gak maksudnya apa??
            Maksudnya gini, senyum itu bisa mengubah keadaan jiwa seseorang, baik yang tersenyum maupun yang melihat senyuman itu. Contoh, ketika anda sedang marah terus anda bertemu dengan teman anda. Dia memberi senyum dan anda melihatnya. Anda pun membalas senyum itu.  Apa yang anda rasakan? Gak usah dijawab, biar saya yang jawab. Hehe.. egois yaa.. =)
            Jelas, anda  merasa sedikit plong (baca: lega) karena dengan senyum, tingkat kemarahan yang ada dalam jiwa anda berkurang. Nah itu, maksud dari kata‘Senyummu mengubah duniaku.’ Bukan mengubah dunia dari bulat menjadi kotak. Hehe.. =)
Mungkin cuma itu, pelajaran yang saya dapatkan dari gadis kecil itu. Jika ada tambahan dari pembaca, silahkan comment… =)
NB: Perlu pembaca ketahui, mengapa daritadi saya menyebut ‘Gadis Kecil’ karena saya tidak tahu namanya. Hehe..  Cukup sekian dan maaf jika tulisan ini menyinggung atau menyakiti hati pembaca. Penulis tidak bermaksud seperti itu. Terima kasih. =)



“Bunda…Bunda…”teriak Aisyah memanggil bundanya yang saat itu sedang di dapur. Ia berlari menuju ke dapur dengan semangatnya. Senyum manis bibir merahnya merekah indah di wajah putihnya.
Ada apa Aisyah? Kok senyum-senyum seperti itu? Aisyah mendapat hadiah ya?”tanya sang Bunda.
“Iya Bunda.., Aisyah seneng dapat hadiah ini. Aisyah bantu masak ya bunda.”
“Tumben ne, anak bunda rajin. HayoO hadiah dari siapa tuh…”ledek sang bunda.
“Hadiah dari Allah, Bunda..”jawab Aisyah dengan riangnya.
“Hadiah dari Allah??”tanya bunda dengan nada sedikit penasaran.
“Iya..dari Allah. Nanti Aisyah ceritain ya bunda. Seusai masak.”
Sang bunda tersenyum melihat buah hatinya senang. Namun dalam hatinya, sang bunda menyembunyikan rasa penasaran perihal apa yang membuat putrinya tersenyum kegirangan. Seusai memasak, sang bunda menagih janji putri sulungnya untuk menceritakan tentang hadiah yang telah Allah berikan.
                “Aisyah…, Aisyah lupa ya? Katanya mau cerita sama bunda?”
                “Oh… iya Bunda. Tapi janji ya, bunda jangan marah. Janji??” sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Lalu sang bunda mempertemukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking putrinya hingga membentuk tanda silang dan kemudian saling mengikatnya satu sama lain. “Iya deh, Bunda janji sayang…”
                “Jadi, begini bunda. Aisyah merasa dapat hadiah dari Allah. Hadiah itu berupa perasaan cinta di hati ananda. Yah…Aisyah jatuh cinta dengan seorang ikhwan, teman seSMA, Bunda..”
                “Alhamdulillah, lalu rencana Aisyah apa?”tanya sang bunda.
                “Rencana apa Bunda? Aisyah tak mengerti maksud bunda.”sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
                “Ya, rencana apa yang bakal Aisyah lakukan dengan perasaan itu? Apa Aisyah mau pacaran?”
“Aisyah juga tidak tahu. Aisyah juga belum mengungkapkan perasaan ini padanya. Menurut bunda, apa yang harus Aisyah lakukan dengan perasaan ini?”
Sang bunda tersenyum dan bertanya,”Bukankah tadi di dapur, Aisyah bilang sama bunda bahwa hadiah itu dari Allah?”
“Iya..Bunda. Aisyah bilang seperti itu karena Aisyah tahu Allah Maha dari Segalanya. Aisyah juga sadar, perasaan ini Allah yang menciptakan dan memberikannya kepada Aisyah. Aisyah ingin menjaga hadiah Allah ini agar tetap indah. Tapi, Aisyah tidak tahu caranya Bunda.”
Sang bunda tersenyum lagi dan mendekati putrinya lebih dekat. Kemudian merangkulkan tangannya di pundak putrinya. Aisyah yang saat itu duduk dengan posisi kepala berdiri tiba-tiba menidurkan kepalanya dibahu sang bunda.
“Bunda…, Aisyah tidak tahu apa yang harus Aisyah lakukan dengan perasaan indah ini. Aisyah baru pertama kali merasakannya dan subhanallah terasa nyaman di hati Aisyah.”
“Iya, bunda mengerti sayang. Dulu ketika remaja, bunda juga merasakan hal yang sama seperti yang sedang Aisyah rasakan saat ini. Yah..dulu bunda juga pernah jatuh cinta pada seorang ikhwan yang amat menawan akhlaknya. Kadang bunda sampai menangis ketika bunda merindukannya. Bunda mencintainya karena kesholehan yang ada pada dirinya. Saat itu, bunda berkeinginan untuk memendamnya saja di hati Bunda. Bunda tak pernah mengungkapkan perasaan bunda padanya. Bunda tidak ingin menempuhnya dengan jalan pacaran. Dengan kata lain, bunda mencintai seorang ikhwan itu dalam diam. Hingga suatu hari, ada seorang ikhwan yang datang menemui kakek dan nenek dengan tujuan untuk mengkhitbah bunda.”
“Siapa ikhwan yang mengkhitbah bunda?? Abi-kah??”tanya Aisyah.
Sang bunda tersenyum dan melanjutkan ceritanya.
“Subhanallah sayang…, seorang ikhwan yang datang kerumah dan berani mengkhitbah bunda saat itu adalah ikhwan yang bunda cintai dalam diam itu. ikhwan itu adalah Abi. Saat itu bunda merasa bahwa keistiqomahan bunda dalam menjalani fase penantian itu ternyata membawa berkah yang amat terasa nikmatnya. Jadi, apa yang Aisyah dapat simpulkan dari cerita bunda?”
Aisyah diam sejenak. Kemudian mengangkat kepalanya dari bahu sang bunda. Aisyah menatap mata indah sang bunda dan memegang kedua tangannya. Lalu Aisyah berkata, “ Terima kasih bunda,kini Aisyah telah mengerti apa yang harus Aisyah lakukan dengan perasaan ini. Aisyah ingin memendam perasaan ini dan menitipkan segala asa dan rasa di hati ananda hanya kepada Allah. Biar Allah yang akan menjaga dan memelihara perasaan ini. Jika kiranya perasaan ini salah, biar Allah yang menghapusnya dan menggantinya dengan perasaan yang lebih indah lagi. Aisyah akan istiqomah dalam penantian ini. Sekali lagi, terimakasih ya Bunda..”
Lalu, Aisyah melepas tangan dari genggaman sang bunda dan memeluk sang bunda dengan perasaan damainya.

***

Surat Kerinduanku

Untukmu yang jauh disana,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh…
Bagaimana kabarmu hari ini??
Semoga kau baik-baik saja dan tetap berada dalam lindunganNya.
Akhi..,aku disini masih sendiri dan tetap menjaga hati untukmu..
Walau raga ini tak pernah bertemu,
Walau lisan ini tak pernah mengungkapkan kata cinta,
Walau kau tak pernah mengucapkan janji akan menemuiku disini, namun aku percaya suatu saat nanti Allah akan mempertemukan kita di waktu dan ruang yang tepat… Aamiin..
Akhi..
Aku tahu, kau disana sedang menuntut ilmu, begitu pula denganku disini juga sedang menuntut ilmu..
Aku juga tahu, kau disana sedang sibuk memperbaiki diri, begitu pula denganku disini juga sedang sibuk berbenah diri..
Tak perlu kau resahkan aku, aku akan baik-baik saja disini dalam lindungan Allah..
Bukankah kau pernah berkata,”Innallaha ma’ana??”
Yah… sesungguhnya Allah akan selalu bersamaku, bersama kita.
Akhi..
Bila kau merindukanku, ungkapkanlah rasa rindumu dalam sujud malammu…
Ungkapkan semua yang ada dalam hatimu pada Rabbmu…
Aku disini, juga akan melakukan hal yang sama..
Aku akan mengungkapkan semua rasa kerinduan ini hanya pada Rabbku..
Aku percaya, Rabbku akan menyampaikan kerinduan ini padamu. Sehingga kau mampu merasakannya walau aku tak pernah berucap,”Aku merindukanmu”.
Akhi..
Biarlah cerita cinta kita berbeda dengan orang kebanyakan.
Meski tak ada ungkapan cinta,
Tak ada panggilan ‘sayang’ untukmu dan juga untukku, dan
Tak akan pernah ada ikatan ‘pacaran’diantara kita..
Janganlah pernah ragu dengan perasaanku padamu..
Apa yang aku rasakan sama dengan apa yang kau rasakan saat ini…
Yakinlah, meski tak pernah terungkap..

Akhi…
Biarlah rasa cinta ini tetap menggantung, menggantung dalam ketetapanNya..
Menggantung dalam kehendakNya..
Karena Allah sebaik-baik tempat bergantung..
Allah yang memberi perasaan ini, Allah juga yang akan memutuskannya.
Entah kita akhirnya akan bertemu ataupun tidak, itu sudah pasti yang terbaik.
Allah yang mempertemukan kita dulu, Allah juga yang memisahkan kita hingga sekarang.
Biarlah harapan untuk sebuah pertemuan yang kedua kalinya kita gantungkan pada Allah..
Aku tahu keputusan Allah itulah yang terbaik untuk kita. Allah tidak akan mempersulit hambanya..
Akhi..
Tetaplah disana kau menjaga pandanganmu, begitu juga denganku disini akan slalu menjaga pandanganku..
Tetaplah menjaga hatimu, begitu juga denganku disini akan slalu menjaga hatiku..
Jalan kita masih panjang..
Banyak rintangan yang akan kita hadapi..
Doakan aku disini, agar tidak terpengaruh rayuan kaum Adam,
Aku disini juga akan mendoakanmu agar kau tidak terpengaruh dengan rayuan kaum Hawa.
Akhi..
Kurasa suratku sampai disini dulu,
Jangan resahkan keadaanku disini…
Tetaplah menuntut ilmu untuk kepentingan umat..
Tetaplah menjaga pandanganmu disana..
Tetaplah berbenah diri..
Tetaplah bertahan dalam tahajudmu..
Percayalah..
Aku disini akan tetap menunggu..
Menunggu keputusan Allah untuk kita…
Akhi…
Jaga selalu hatimu disana..
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh..
Dari yang merindukanmu

Tepat malam rabu, aku mendengar berita dari temanmu bahwa kau sedang jatuh sakit. Saat itu aku bingung. Inginku menghubungimu dengan sekedar mengirim sms menanyakan kabarmu. Tapi, aku malu. Aku segera mengurungkan niatku itu. Tak beberapa lama, ada sebuah pesan masuk dari seorang teman wanitaku. Ia mengajakku untuk menjengukmu di rumah sakit. Lagi-lagi aku bingung harus berbuat apa. Setelah ku pikir dengan berbagai pertimbangan, aku tolak ajakan temanku itu dengan alasan aku malu bila harus bertemu denganmu.
Malam itu, aku tak bisa tidur. Aku resah memikirkan keadaanmu. Mau mengirim sms saja, aku malu. Apalagi menelfonmu. Itu hal yang tidak mungkin kulakukan karena aku benar-benar malu padamu. Mengingat dirimu berbeda dengan laki-laki kebanyakan, membuatku semakin malu untuk bertegur sapa denganmu walau hanya lewat dunia maya  sekalipun. Kaulah seorang laki-laki yang ahli tahajud. Kaulah laki-laki yang hafal al-qur’an dan senantiasa mempelajarinya. Kaulah laki-laki yang setiap malam minggu kutemui sedang berdakwah di masjid yang tak jauh dari rumahku. Kaulah laki-laki yang patuh kepada Ibu Bapakmu. Kaulah laki-laki yang mampu menjaga penampilanmu dan ibadahmu dari riya’. Kaulah laki-laki yang senantiasa menjaga pandanganmu dikala kau melihat wanita berpakaian ala kadarnya tanpa menutup aurat. Dan kaulah laki-laki yang baru aku temui, jika aku mengirim pesan padamu dengan kalimat panjang namun kau hanya membalasnya dengan singkat. Saat itulah, tanpa sengaja kau menyadarkanku bahwa sekedar mengirim sms saja bisa menjadi mendekati zina bila berlebihan. Sungguh, akhlakmu sangat menawan. Keindahan akhlakmu itu yang membuat diriku terpesona dan hatiku mampu kau pikat.
Jam menunjukkan pukul 01.11, aku masih tidak bisa tidur. Otakku penuh dengan berbagai pertanyaan mengenai kabarmu disana yang sedang terbaring lemah. Dadaku tiba-tiba terasa sesak dan air mataku mulai keluar membasahi wajahku yang tampak kusut. Aku baringkan tubuhku yang lemah  dan mencoba memejamkan kedua mataku. Aku tak bisa melakukan sesuatu apapun karena kusadar aku belum halal untukmu.
Andai kau halal untukku, kan kujaga dan kutemani dirimu yang sedang terbaring lemah. Kan kurawat dirimu dengan sejuta belaian kasihku hingga kau sembuh. Kan ku genggam tanganmu dengan kelembutan agar kau sanggup menahan rasa sakit yang kau derita. Kan ku kecup keningmu dengan kehangatan agar kau sadar bahwa aku kan selalu ada di sampingmu.
Andai kau halal untukku, akulah yang akan menjadi orang pertama yang senantiasa mengkhawatirkanmu. Akulah orang pertama yang akan kau lihat saat kau sadar dalam tidur panjangmu saat menghadapi masa kritismu.
Aku…
Aku…
Aku…
Dan Akulah orang pertama yang akan meminta kesembuhanmu kepada Rabbku dalam setiap do’a yang aku panjatkan dalam sujud malamku…
Andaikan kau halal untukku…
“(^_^)”


Cerita ini terinspirasi dari pengalaman seorang sahabatku.
Semoga bermanfaat.
Jika coretan pena ini tidak bermanfaat, dengan segala kerendahan hati, saya sebagai penulis minta maaf yang sebesar-besarnya.


               

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

About Me

Foto Saya
Nur Latifa
Seseorang yang sedang memantaskan diri untuk menyambut pangeran yang akan Tuhan kirimkan esok. Memantaskan diri untuk bersanding dan menuju surga dengannya. Dengan pangeran pilihan Tuhan.
Lihat profil lengkapku
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates