Coretan Pena Cahaya

Tujuanku menulis hanya untuk sekedar melegakan rasa. Selebihnya, itu tergantung persepsi pembaca. (Latifa, N., 26111994)

Tampilkan postingan dengan label Cinta Ortu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta Ortu. Tampilkan semua postingan

Berdua dengan Ayah


               Barusaja aku resmi diterima sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Malang. Setelah mengalami kegagalan  2 kali masuk PTN, akhirnya aku memutuskan untuk kuliah di swasta. Jarak antara kampus dan rumahku cukup jauh. Bila ditempuh dengan mobil hanya 2 jam tapi jika ditempuh dengan naik bis bisa memakan waktu 4-5 jam. Sayangnya, aku bukanlah orang kaya yang punya mobil. Terpaksa aku harus naik bis menuju kampus. Sebagai mahasiswa baru, banyak kegiatan kampus yang harus aku lakukan. Misalnya, kegiatan ospek, penggalian potensi, aplinet dll.
                Pagi itu, tepatnya hari kamis, aku harus ke kampus untuk menghadiri kegiatan penggalian potensi. Kebetulan acara tersebut dimulai jam 1 siang. Aku berangkat hanya berdua dengan Ayah. Aku tak menyangka Ayah mau menemaniku.  Padahal, dulu sewaktu aku masih SMP dan SMA, Ayah tak pernah ikut campur mengurusi kegiatan sekolahku apalagi mengantarkanku ke sekolah. Tidak mungkin. Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
                Di dalam bis,aku seperti bermimpi bisa duduk berdua dengan Ayah. Rasanya aku ingin menangis. Melihat wajah Ayah yang tidur disampingku. Wajah Ayah nampak lelah. Mungkin terlalu banyak beban keluarga yang dipikirnya terutama aku, putri sulungnya. Aku merasa bersalah. Saat SMP dan SMA aku berpikir bahwa Ayah tidak pernah peduli denganku, ternyata itu salah. Sekarang Ayah disampingku, sedang terlelap dalam tidurnya. Dadaku terasa sesak menahan airmataku agar tidak jatuh. Berulang kali aku mengedip-ngedipkan kedua mataku.
                Setelah 3 jam dalam perjalanan, akhirnya sampai juga diterminal Arjosari. Aku dan Ayah masih harus naik angkot ADL atau AL untuk menuju terminal Landungsari. Didalam angkot terasa begitu sesak. Saking banyaknya penumpang, aku dan Ayah sampai tidak bisa bergerak. Aku menatap wajah Ayah dalam-dalam. Lagi-lagi aku merasa bersalah. Aku telah membuatnya susah.
“Ayah, maafkan aku telah menyusahkanmu.”batinku.
Setelah 1 jam, akhirnya sampai di terminal Landungsari, aku dan Ayah harus berjalan kaki sejauh 500 km untuk menuju kampus. Cuaca sangat panas. Aku dan Ayah berjalan berdua melewati sawah dan menyebrangi sungai. Sungguh perjalanan yang sangat luarbiasa.
                Tepat pukul 12 siang, akhirnya sampai juga di kampus. Acara masih belum dimulai. Setelah sholat, Ayah menemaniku mencari tempat yang tertera dalam jadwal. Tak butuh waktu lama untuk menemukannya. Setelah itu Ayah meninggalkanku bersama seorang teman yang baru ku kenal. Sebut saja Lia. Ia adalah siswi alumni gontor yang sangat fasih berbicara bahasa inggris dan arab. Ditengah-tengah obrolanku dengannya, aku menoleh kebelakang mencari Ayah. Terlihat Ayah sedang duduk seorang diri di samping perpustakaan. Aku pun berteriak,”Ayah, tunggu aku ya..”
Ayah hanya mengangguk. Aku sedikit lega.  Gak seperti biasanya, Ayah betah menunggu. Kulihat jam ponsel sudah menunjukkan jam 1, aku dan teman baruku bergegas masuk  ruangan yang tertera dalam jadwal. Sesampai  disana, ada sekumpilan kakak tingkat yang bertugas mengecek  berkas - berkas kami. Temanku, Lia kebingungan. Berkas yang dia bawa tidak lengkap. Spontan kami meminta ijin keluar kepada panitia.
                “Ifa, maaf ngerepotin. Jangan marah ya.. temenin aku fotocopy..”pinta Lia penuh harap.
                “Iya.. gak apa2..makanya lain kali dicek dulu, jangan diulangi lagi..”sahutku.
Akhirnya kami keluar ruangan mencari jasa fotocopy disekililing kampus. Alhamdulillah, tidak jauh dari tempat itu, kami menemukan jasa fotocopy.
                “Mas, Tolong fotocopy ini 1 lembar dan scan foto ini 5 lembar.”pinta Lia.
Hanya dalam hitungan menit, akhirnya selesai.
                “Semuanya 5.200 mbak..”
                “Oh..Ini..”(sambil menyerahkan uang dengan nominal 10.000).
                “Wah, gak ada kembaliannya mbak, ada uang pas?”
                “Oh, ya sudah kembaliannya buat mbak itu.”(sambil menunjuk salah seorang konsumen).
                “Temannya ya mbak?”
                “Bukan, ya sudah jazakillah..”sahut Lia.
Dalam hatiku, aku berucap ‘subhanallah’. Secara tidak langsung, teman baruku ini mengajarkanku arti berbagi.  Tanpa ada rasa ragu, ia memberi uang kembaliannya kepada konsumen lain yang belum ia kenal. Baru pertama kali aku menemukan orang seperti Lia. Kami bergegas memasuki ruangan. Lia langsung menyerahkan berkasnya.
                “Ok.. sudah lengkap. Silahkan kalian antri disana bersama teman yang lain.”kata Panitia.
Kami menuruti apa yang panitia katakan. Tak lama kami mengantri, akhirnya kami di tes .
                Tes berlangsung selama 3 jam, akhirnya selesai. Aku langsung meminta ijin kepada Lia untuk pulang terlebih dahulu. Aku segera menemui Ayah di samping perpustakaan. Kulihat Ayah sedang mengobrol dengan seorang pria setengah baya. Rupanya pria itu juga sedang menunggu anaknya. Kami segera berpamitan kepada pria setengah baya itu.
                “Mari Pak, assalamu’alaikum.”kata Ayah sambil menganggukkan kepalanya.
                Aku dan Ayah jalan berdua menuju terminal. Perjalanan menuju terminal sekitar 1 jam. Di dalam angkot, aku menceritakan kejadian yang  barusaja aku alami bersama teman baruku. Lia. Rupanya Ayah senang mendengar ceritaku.
                “Ayah, tadi Lia nawarin aku untuk mampir ke rumahnya, malah disuruh menginap.”
                “Iyaa.. kapan-kapan saja kita mampir ke rumahnya.” sahut Ayah sambil tersenyum.
Sesampai di terminal Arjosari, aku dan Ayah berbuka  puasa dengan menu seadanya dan melanjutnya perjalanan pulang. Di dalam bis, aku tidak tega melihat wajah Ayah yang nampak sangat kelelahan. Aku bangga dan aku cinta kepada Ayah. Namun, aku bukanlah gadis Ayah yang pandai mengungkapkan rasa sayangku kepada Ayah. Aku hanya berusaha menuruti semua perintahnya selama tidak keluar syari’at. Ditengah kenyamananku duduk dalam bis, tiba-tiba bis berhenti. Seorang kondektur menyuruh para penumpang untuk pindah ke bis lain tanpa alasan. Spontan, kami pindah begitu saja.
                Di dalam bis lain, seorang kondektur menghampiri kami. Ia meminta karcis bis sebelumnya.
                “Pak, karcisnya ketinggalan di bis sebelumnya.”jawab Ayah.
                “Wah, tidak bisa begitu . Kalau karcisnya hilang bagaimana saya harus bertanggungjawab?”
                “Saya sudah bayar tapi kami lupa karcisnya.”sahut Ayah mulai jengkel.
Kondektur tersebut melirik kepadaku dan menanyakan karcis. Ayah langsung menjawab dengan tegas, “Ini anakku, kami sudah membayar 2 karcis. Tapi kami lupa.”
                “Wah, gimana ini Pak? Bapak tidak punya bukti.  Bapak harus bayar lagi.”
                “Pak, kita sudah bayar kok. Tapi karcis kita ketinggalan.”sahutku jengkel.
                “Ya sudah, kami turun disini saja.”ujar Ayah sambil menarik tanganku.
                “EeehH.. tunggu Pak. Jangan seperti itu.”kata kondektur sambil mencoba menahan.
                “Kalau kami disuruh bayar lagi, kami tidak mau.”jawab Ayah dengan marah.
Suasana di dalam bis semakin panas. Sementara aku dan Ayah memaksa untuk turun dari bis.
                “Ya sudah Pak, saya cek lagi. Bapak duduk disini saja.”pinta Kondektur.
Aku dan Ayah kembali duduk di tempat semula. Aku melihat wajah Ayah nampak kesal. Aku memaklumi hal itu. Aku pun juga ikut geram kepada kondektur itu.
                Beberapa menit kemudian, kondektur itu menghampiri kami lagi.
                “Maaf Pak, tadi ada kesalahan. Ternyata benar, Bapak sudah bayar. Maaf ya Pak..”ujar kondektur.
                “Iya sama-sama.”jawab Ayah.
Aku sedikit lega mendengar pernyataan Pak kondektur tadi. Akhirnya, kami bisa menikmati perjalanan pulang kami dengan tenang.
                                                                                ***


                Cerita diatas adalah kisah nyata penulis. Mungkin dapat diambil hikmah dari cerita tersebut. Sejatinya laki-laki yang biasa kita panggil dengan sebutan ‘Ayah’ adalah laki-laki yang sangat menyayangi kita. Ayah selalu memberi yang terbaik untuk anaknya. Seperti cerita diatas, seorang Ayah rela meluangkan waktunya untuk mengantarkan putrinya dan menunggunya hingga beberapa jam. Padahal menunggu adalah hal yang sangat dibenci laki-laki. So, Keep positive feeling to our father.  


Siang itu, tepatnya pukul  13.00, Zahra mengambil sepedanya yang ia parkir di tempat parkir sekolahnya. Wajahnya terlihat begitu lelah. Dengan pakaian putih biru dan tas ranselnya yang berada dipundakknya, ia perlahan-lahan mengayuh sepedanya. Panas terik matahari sudah biasa menemaninya dalam perjalanan pulang. Dalam perjalanan, Zahra di salip sebuah mobil sedan yang sangat ia kenal. Mobil itu milik Pak Andi, ayah dari teman dekatnya yang bernama Nina.
“Zahra….duluan yaa..”teriak Nina sambil berlalu pergi.
Zahra hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Dalam hatinya, ia merasa iri dengan temannya itu. Zahra juga ingin seperti dia yang setiap hari diantarjemput oleh ayahnya. Sementara , ayah Zahra tidak pernah mengantarkannya ke sekolah apalagi menjemputnya. Sejak kelas 2 SD, ia sudah terbiasa berangkat sekolah sendiri dengan sepedanya tanpa seorang ayah yang mengantarkannya. Sesampai dirumah, ia bertemu dengan ibunya. Seperti biasa ia mengucapkan salam.              
“Assalamu’alaikum..”sambil mencium tangan ibunya.
“Wa’alaikumsalam.., capek ya..”sapa ibunya.
“Ayah mana , Bu??”tanya Zahra dengan nada kesal.
“Ayahmu sedang kerja, Nak. Memangnya ada apa?”
Tanpa menghiraukan pertanyaan ibunya, ia langsung pergi ke kamar dan menguncinya. Sang ibu merasa heran melihat tingkah putrinya yang baru kelas  1 SMP itu. Tanpa berfikir panjang, sang ibu mengetuk pintu kamar Zahra.
“Nak, ada apa? Kamu pasti lapar ya? Yuk, kita makan siang bersama.”sambil mengetuk pimtu.
“Zahra gak mau makan sampai Ayah pulang.”sahut Zahra dari dalam kamar.
“Ayah pulang jam 7 malam. Apa kamu sanggup menahan rasa laparmu?”
“SANGGUP, Bu..”teriak Zahra dengan nada kesal.
Akhirnya sang ibu membiarkan Zahra didalam kamarnya. Dalam hati sang ibu bertanya-tanya, “ada apa dengan Zahra?”
                Hingga pukul 7 malam, Zahra masih saja mengurung dalam kamarnya. Sementara sang ibu, masih saja terus menerus mengetuk pintu kamarnya sambil membujuk putri sulungnya agar mau makan. Namun jawaban Zahra tetap sama yaitu ia akan makan sampai ayahnya pulang.
Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil. Zahra tahu pemilik bunyi klakson mobil itu adalah ayahnya. Sang ibu bergegas keluar membuka pintu gerbang. Zahra pun ikut keluar menyusul ibunya. Begitu sang ayah keluar dari mobil, Zahra langsung menghampiri ayahnya dan mencium tangannya. Ia menatap wajah sang ayah dan bertanya,”Ayah, apa ayah sudah tidak sayang lagi sama Zahra?”
Mendengar hal itu, sang ayah kaget. “Kenapa kamu bertanya seperti itu, Nak?”tanya sang ayah.
“Zahra ingin seperti Nina yang diantarjemput setiap hari ke sekolah, sementara Zahra? Tidak!! Zahra ingin punya ayah seperti ayahnya Nina. Sangat perhatian kepada putrinya.”
Sang ayah tersenyum dan mengajak Zahra untuk duduk di teras depan, sementara sang ibu bergegas masuk ke dalam untuk menyiapkan makan malam. Di teras depan, sang ayah menatap mata putrinya dan menggenggam  tangannya.
                “Nak, maaf jika selama ini ayah belum bisa menjadi orang tua seperti yang Zahra inginkan. Yang ayah bisa lakukan hanyalah ini: Ketika kau terlelap dalam tidurmu, Ayah menarik selimut agar nyamuk tidak mengganggu tidurmu. Ketika Ayah akan berangkat kerja, Ayah selalu menyempatkan waktu untuk masuk ke kamarmu bermaksud untuk berpamitan padamu, tapi kau masih tertidur pulas dan ketika ayah pulang kerja, Ayah sebenarnya ingin mengobrol denganmu tapi Ayah lihat kamu sibuk dengan tugas-tugasmu. Setiap malam Ayah hanya bisa melihat wajahmu yang cantik dan mendoakanmu agar kamu tumbuh menjadi anak yang sholehah, pintar, baik hati, sayang kepada orang tuamu, bermanfaat untuk keluarga maupun orang lain dan sukses dunia akhirat. Nak, Ayah bekerja seharian untuk mencukupi kebutuhanmu, bukan untuk siapa-siapa. Ayah sanggup menahan dinginnya udara dan terik matahari, itu semua karena kamu. Ayah tidak pernah merasa lelah bekerja karena Ayah ingat padamu dan ibumu. Ayah ingin membiayaimu sekolah  hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Nak, Ayah tahu, waktu ayah buatmu berkurang karena sibuk bekerja dan ayah sebenarnya sedih tidak bisa menemanimu setiap saat. Tapi yakinlah Nak, kasih ayah untukmu tidak akan pernah pudar. Ayah sayang padamu melebihi semua ayah di dunia ini.”Ungkap sang ayah. Tiba-tiba air mata Zahra jatuh membasahi pipinya dan ia pun memeluk tubuh sang ayah.
“Maaf Ayah, Zahra sudah berpikir negative tentang ayah. Ternyata semua yang ayah lakukan semata-mata untuk Zahra. Aku sayang Ayah..”

***
Seringkali, kita merasa seolah-olah Ayah kita sudah tidak sayang lagi kepada kita karena sibuk dengan pekerjaannya. Kita merasa kehilangan perhatiannya. Kita merasa Ayah kita sudah tidak peduli lagi dengan kita. Intinya, kita merasa tak dianggap lagi sebagai anak karena kurangnya perhatian yang Ayah berikan. Padahal, jika kita mau berpikir lagi, kita akan sadar betapa besarnya kasih sayang seorang Ayah untuk anak-anaknya. Panas matahari dan hujan deras sekalipun tak menjadi batu penghalang baginya untuk tidak bekerja. Ayah tidak pernah mengeluhkan semua itu, karena ia sayang terhadap anak-anaknya. Andai saja Ayah kita tidak bekerja, menghabiskan waktunya untuk mengantarjemput kita ke sekolah dan menemani kita setiap saat. Lantas siapa yang akan membayar uang bulanan sekolah? Siapa yang akan memberi uang belanja untuk ibu? Siapa yang akan membayar tagihan listrik? Siapa yang akan memberi uang saku? Siapa lagi kalau bukan AYAH??

Kasih sayang Ayah itu seperti angin. Tidak tampak tapi kita bisa merasakannya jika kita mau membuka pikiran kita dan tidak menuruti ego. Cinta seorang Ayah tidak akan pernah pudar walau usia kita telah menginjak dewasa. Ia akan tetap mencintai kita dan mendoakan kebaikan untuk kita.
Aku sayang Ayah…
Semoga Bermanfaat J

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

About Me

Foto Saya
Nur Latifa
Seseorang yang sedang memantaskan diri untuk menyambut pangeran yang akan Tuhan kirimkan esok. Memantaskan diri untuk bersanding dan menuju surga dengannya. Dengan pangeran pilihan Tuhan.
Lihat profil lengkapku
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates