Coretan Pena Cahaya

Tujuanku menulis hanya untuk sekedar melegakan rasa. Selebihnya, itu tergantung persepsi pembaca. (Latifa, N., 26111994)

Menabung Rindu



            Mirip seperti anak-anak yang merengek meminta uang koin pada ibunya, atau seperti anak SD yang menyisihkan uang sakunya untuk kemudian ditabung dalam celengan. Mungkin itu analogi yang tepat untuk manusia sepertiku. Bedanya, jika anak-anak menabung uang untuk dibelikan mainan, sementara aku menabung rindu untuk berjumpa dan melegakan rasa di waktu yang tepat. Aku tak ingin rindu-rindu itu berceceran seperti uang koin yang sekilas tidak berharga atau tidak memiliki nilai. Aku ingin rindu yang kumiliki ini berharga dan mempunyai makna meski harus menunggu celengan itu penuh. 

Setiap kali aku merasa rindu, akan kutabung rindu-rindu itu dalam doa dan aku memasrahkannya pada Sang Maha Perindu. Kelak, jika rindu-rindu itu sudah penuh, biarkan Allah yang akan menyampaikannya pada orang tepat melalui caraNya yang romantis.

Semoga kamu juga sedang menabung rindu, sama sepertiku..



Disaat seorang wanita mulai mencari pasangan hidup, tak sedikit yang memasangkan kriteria laki-laki seperti ayahnya. Banyak wanita yang ingin menemukan sosok pria yang baik, tulus, bertanggungjawab dan mampu melindungi seperti ayahnya. Maklum, sejak kecil anak perempuan paling dekat dengan ayahnya. Bahkan ketika ia menginjak usia dewasa, ia masih tetap saja manja dengan laki-laki yang sering ia panggil ‘Ayah’.
Ini bukanlah keanehan, wanita memang seperti itu. Tak sedikit, wanita yang melihat laki-laki dari sudut pandang ayahnya. Ketika ia mulai dekat dengan seorang laki-laki, ia tak segan-segan akan membandingkan sosok laki-laki tersebut dengan sosok ayahnya. Baginya, sosok ayah adalah sosok laki-laki yang paling ideal di bumi ini.
Ayah..Ayah..Ayah...tak akan ada laki-laki yang bisa menggantikan ayah dihatinya. Sekalipun dari segi fisik, materi dan ilmu, laki-laki itu lebih mapan dibanding ayahnya. Tetap saja, posisi ayah tak akan pernah tergantikan.
Bagi laki-laki yang menemukan wanita sindrom ini, tidak perlu-lah menopengkan diri seperti ayahnya. Ia akan tetap mencintaimu sesuai dengan kadarnya. Dan jangan cemburu jika posisi ayahnya tersimpan lebih tinggi daripada posisimu dihatinya. Baginya, ayah tetap laki-laki paling ideal di bumi ini. :)

Kata ‘Father Complex’ terinspirasi dari tulisan Kurniawan Gunadi (MasGun).

Tokoh 'Tuan'



         Ini semacam cinta dalam diam, tapi diam-diam diperbincangkan. Diperbincangkan dalam doa dan pada sahabat dalam ruang yang tentu saja tertutup. Dalam sebuah ruang yang dipastikan hanya ada 2 orang saja dan tidak didengar oleh telinga-telinga jahil. Menurutnya, ini benar-benar rahasia. Tidak sembarang orang bisa dipercaya. Dalam suara pelan, ia mulai menceritakan tentang sosok laki-laki yang baru dikenalnya. Terlihat jelas, aura senang yang dibumbui rasa malu di wajahnya. Tidak sekali, 2 kali ia menceritakan sosok laki-laki itu pada sahabatnya. Berkali-kali, iya. Menariknya, gadis ini tidak pernah bosan menghadirkan tokoh ‘tuan’ yang sama dalam ceritanya. 
Sempat terlintas pertanyaan dalam benakku, ‘Bagaimana jika tokoh ‘tuan’ yang selalu ia perbincangkan, kelak akan menjadi nyata dan menjadi bagian dari masa depannya?’ Tentu, hal ini menarik tuk diceritakan dalam cerita selanjutnya.



Kau tahu?
Apa yang dirasakan gadis pencinta hujan ketika hujan tiba? Ia akan tersenyum senang menikmati tetes demi tetes air hujan yang jatuh ke tanah, lalu ia akan menengadahkan kedua tangannya dan berdoa pada Tuhan mengenai masa depannya, tentang apa saja yang ia impikan. Tidak hanya itu, ia tak segan-segan akan menerobos hujan tanpa payung sekalipun. Meski, ada teman yang menawarkan payung untuknya, ia pasti akan menolak dan memilih berjalan dalam hujan tanpa pelindung apapun. Aneh, memang. Namun itulah, sosok gadis pencinta hujan. Ia selalu menanti datangnya hujan dan bersedih ketika musim hujan telah usai.
Kau tahu?
Gadis pencinta hujan  selalu memilih hujan-hujanan disaat gadis lain enggan dan memilih menanti hujan reda. Gadis pencinta hujan akan selalu merasa bahwa dirinya butuh hujan. Baginya, rintik hujan dapat membuat kepalanya terasa ringan akibat beban hidup yang ia jalani selama ini. Membasahi tubuhnya dengan rintik hujan adalah salah satu caranya menenangkan hati dan pikirannya yang sempat jenuh. Jenuh dengan kepalsuan dan kebohongan manusia-manusia tak bertanggung jawab.
Kau tahu?
Gadis pencinta hujan tidak pernah merasa pusing ataupun demam akibat ia hujan-hujanan. Justru, ketika hujan-hujanan ia akan merasakan tubuhnya lebih baik dan sehat dari sebelumnya.
Aneh, bukan?

Selamat hujan-hujanan..:)


Aku ingin terlihat hebat seperti wanita lainnya. Hebat dalam karir, hebat dalam prestasi dan hebat dalam ibadah. Tapi menariknya, kenapa di depanmu, aku tak lagi ingin terlihat hebat. Tak lagi ingin memamerkan aktivitas-aktivitas hebatku. Tak ingin lagi menunjukkan kecerdasanku. Tak ingin lagi.


Tiba-tiba saja, aku ingin terlihat baik di depanmu, tanpa memamerkan apapun.
Terlihat baik untuk diajak ngobrol…
Terlihat baik untuk dipercaya..
Terlihat baik untuk dijadikan teman hidup.. *ups..


Cemburu pada samudera yang menampung segala...
Cemburu pada sang ombak yang selalu bergerak...
_Iwan Fals

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

About Me

Foto Saya
Nur Latifa
Seseorang yang sedang memantaskan diri untuk menyambut pangeran yang akan Tuhan kirimkan esok. Memantaskan diri untuk bersanding dan menuju surga dengannya. Dengan pangeran pilihan Tuhan.
Lihat profil lengkapku
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates