Aku akan membuang siluetmu.
Jika Tuhan menjodohkan kita, aku yakin siluetmu akan
datang kembali menjadi sel – sel yang berwujud nyata layaknya manusia utuh.
Kamu, tetaplah menjadi seseorang yang langka, yang
dicari oleh seorang wanita yang paham bagaimana seharusnya ia mencintaimu
sebagai imam.
Sementara aku, aku akan tetap berbenah, memantaskan
diri untuk seseorang yang akan menjadi imamku suatu hari nanti. Meski aku tak
tahu siapa dia. (Kamu) ataukah …??
Aku tak tahu..
Biarkan untuk sementara waktu, aku tetap sendiri, seperti kesendirian Zulaikha dalam merindukan Yusuf..
Aku akan tetap berjalan sendiri sambil mencari jati diriku. Fokus pada mimpi-mimpi besarku tanpa peduli dengan perasaanku yang belum jelas adanya.
Aku...
Akan menjadi insan yang layak untuk pasanganku :)
Aku akan tetap berjalan sendiri sambil mencari jati diriku. Fokus pada mimpi-mimpi besarku tanpa peduli dengan perasaanku yang belum jelas adanya.
Aku...
Akan menjadi insan yang layak untuk pasanganku :)
Pernah..
aku merasakan kelelahan karena perjalanan hidup yang seolah-olah tak ada
ujungnya. Berharap ada seseorang yang mengajakku memutus perjalanan ini.
Perjalanan yang identik dengan kata ‘menunggu’.
Kamu
kah seseorang itu? Ataukah yang lain?
Jauh
dari pandangan manusia, aku menyembunyikan sesuatu yang dengannya aku merasa
nyaman. Merasa nyaman dengan penantian ini. Walau ini tak biasa. Menunggu tanpa
bertemu. Menunggu tanpa tahu bahwa orang yang kutunggu apakah ia benar-benar ‘kamu’.
Diantara
kita, ada kode-kode ambigu yang masih kupikirkan hingga kini. Kadang keraguan
itu muncul. Begitu pun dengan keyakinan. Yang jelas, kita sama-sama merasakan
kode-kode ambigu itu. Dan anehnya, kita sama-sama memilih jalan tawakkal. Menyetujui
setiap peristiwa yang telah Tuhan tuliskan untuk kita. Walau kadang, hati kita memaksa
dan meminta pada Tuhan, ‘Semoga Dia menjodohkan kita dengan caraNya’.
Malang,
22 Oktober 2014
Bagaimana jika Tuhan tidak menciptakan hujan?
Bagaimana
rasanya, dunia menjadi kering tanpa setetes pun air hujan yang turun?
Hujan…
Mungkin
aku adalah salah satu orang dari sekian juta jiwa yang mencintai hujan..
Selalu
menantinya..
Selalu
mengharap kehadirannya, agar aku bisa menangis sejadi-jadinya dalam hujan..
Dan..
Aku
merasa heran dengan orang yang membenci hujan..
Selalu
mencaci hujan dan menganggap bahwa hujan adalah bencana. Bukan nikmat.
Cobalah
pikirkan lagi..
Bagaimana
jika Tuhan tidak menciptakan hujan??
Alhamdulillah…
Aku percaya ini bukanlah suatu ‘kebetulan’, melainkan sebuah ‘kebenaran’…Tepat, tanggal 24 September 2014, aku diterima menjadi asisten laboratorium kimia. Sungguh, ini rencana Allah yang telah Dia tuliskan sebelumnya. Setelah kemarin gagal menjadi asisten laboratorium biologi, kini aku menjadi ‘aslab kimia’. Segala Puji Bagi Allah..
Sudah
2 minggu (lebih) ini, aku berperan dalam dunia baruku. Dunia baru yang membuatku
lebih semangat dari biasanya meski ada beberapa hambatan yang menguras emosiku.
Namun, aku kembali tetap bersyukur. Karena menjadi ‘aslab’ adalah salah satu
dari mimpi-mimpiku.
Dimulai
dari mendapatkan IP 4,00 di semester 4, kenikmatan-kenikmatan yang lain
menyusul sesuai alurnya. Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban...
Kini,
aku merasa memiliki banyak teman. Setiap aku melangkahkan kaki, ada saja orang
yang menyapaku. Yah..seolah2 aku memiliki teman di seluruh dunia.
Ada
saja cara Allah membuatku tersenyum, yakni dengan mengirimkan teman-teman baru
sehingga aku lupa dengan masalah-masalahku.. Semangat !!!
Kampus
– Laboratorium – Kontrakan





